SMAN 1 LEUWIMUNDING – Jumat pagi biasanya identik dengan persiapan akhir pekan. Namun, ada yang berbeda dan luar biasa di Ruang Guru SMAN 1 Leuwimunding pada Jumat, 22 Mei 2026 kemarin. Sebelum bel masuk kelas berbunyi, tepat pukul 06.30 WIB, atmosfer hangat dan antusiasme tinggi sudah menyelimuti ruangan.
Para pendidik hebat SMAN 1 Leuwimunding berkumpul dalam agenda rutin Hari Belajar Guru yang diinisiasi oleh Komunitas Belajar SMILE CENDEKIA. Kali ini, topik yang diangkat tidak lagi soal urusan administrasi atau nilai akademik, melainkan sesuatu yang menyentuh fondasi terdalam seorang pendidik: “Kelola Emosi & Tumbuhkan Resiliensi”.
Mengapa Topik Ini Begitu Krusial?
Di tengah tuntutan Kurikulum Merdeka dan dinamika menghadapi generasi Z serta Alpha, guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar transfer ilmu (transfer of knowledge). Guru adalah mentor, fasilitator, dan benteng emosional bagi para murid.
Tugas mulia ini tentu menguras energi psikologis yang tidak sedikit. Jika seorang guru mengalami burnout atau stres, kualitas pembelajaran di kelas pun akan terdampak. Oleh karena itu, Komunitas Belajar “SMILE CENDEKIA” bergerak cepat untuk memberikan ruang recharging bagi kesehatan mental para guru.
Sinergi Hangat dari Garda Terdepan Mental Health Sekolah
Workshop interaktif kali ini dipandu langsung oleh dua srikandi Bimbingan dan Konseling (BK) SMAN 1 Leuwimunding:
- Ibu Dewi Tazkiyatun Nafsiyah, S.Pd.
- Ibu Dea Nurul Fahmy Pratiwi, S.Pd.
Dengan pendekatan yang santai, interaktif, namun sarat akan ilmu psikologi praktis, kedua pemateri mengupas tuntas cara mengubah tekanan menjadi kekuatan. Menariknya, dalam sesi ini para guru diajak untuk melakukan self-assessment sederhana guna memetakan tingkat stres dan mengenali apa saja trigger (pemicu) emosi negatif yang sering muncul saat proses belajar mengajar.
Ada 3 pilar utama yang dibedah secara mendalam dalam workshop berdurasi 90 menit ini:
- Regulasi Emosi (Emotional Regulation): Mengakui dan menerima emosi yang hadir (lelah, kecewa, atau marah) tanpa harus meluapkannya secara destruktif ke lingkungan sekitar atau kepada siswa.
- Teknik Mindfulness Singkat: Praktis latihan pernapasan dan grounding yang bisa dilakukan guru hanya dalam waktu 2–3 menit di sela-sela pergantian jam pelajaran untuk mengembalikan ketenangan.
- Membangun Resiliensi (Daya Lenting): Kemampuan untuk tidak hanya sekadar “bertahan” di masa sulit, tetapi memanfaatkan tantangan tersebut sebagai batu loncatan untuk tumbuh menjadi pendidik yang lebih matang dan bijaksana.
“Siswa tidak selalu mengingat apa yang kita ajarkan secara kognitif, tetapi mereka akan selalu ingat bagaimana cara kita memperlakukan dan merespons mereka secara emosional. Guru yang resilien adalah kunci lahirnya generasi yang tangguh.” — Tim Pemateri Guru BK
Dukungan Penuh dan Harapan ke Depan
Kegiatan inovatif ini berjalan sukses berkat sinergi nyata dengan platform Merdeka Mengajar serta pengawasan dan dukungan penuh dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat (Disdik Jabar) melalui Cabang Dinas Pendidikan Wilayah setempat.
Waktu pelaksanaan yang sengaja diambil pada pagi hari (06.30 – 08.00 WIB) terbukti sangat efektif. Para guru memasuki ruang-ruang kelas setelah workshop dengan senyuman yang lebih tulus, pikiran yang lebih jernih, dan semangat yang terbarukan.
Melalui kegiatan Komunitas Belajar “SMILE CENDEKIA” ini, SMAN 1 Leuwimunding kembali membuktikan komitmennya: untuk menciptakan ekosistem sekolah yang bahagia (well-being), kita harus memulainya dengan membahagiakan dan menguatkan para gurunya terlebih dahulu.
SMILE CENDEKIA: Bersama Belajar, Saling Menguatkan, Menginspirasi Perubahan!







3 Responses
Atas nama pribadi dan pimpinan sekolah, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pemateri dua Srikandi guru Bimbingan dan Konseling (BK) SM1LE: Ibu Dewi Tazkiyatun Nafsiyah, S.Pd. dan Ibu Dea Nurul Fahmy Pratiwi, S.Pd., yang telah menghadirkan tema yang sangat relevan dan inspiratif dalam Hari Belajar Guru – Kombel SM1LE Cendikia SMAN 1 Leuwimunding.
Saya yakin kreativitas dalam mengemas materi tentang pengelolaan emosi dan resiliensi ini menjadikan kegiatan berbagi untuk bertumbuh bersama ini tidak hanya bermakna, tetapi juga mampu menguatkan semangat dan kesadaran guru akan pentingnya menjaga kesehatan emosional sebelum memulai pembelajaran.
Tak lupa saya memohon maaf karena belum dapat membersamai secara langsung dalam kegiatan ini dikarenakan adanya tugas kedinasan yang tidak dapat diwakilkan. Meski demikian, saya merasa bangga dan bersyukur karena kegiatan tetap berlangsung dengan hangat, reflektif, dan penuh antusiasme berkat penyampaian materi yang komunikatif serta menyentuh pengalaman nyata para guru. Semoga pembelajaran baik ini terus tumbuh dan menjadi energi positif bagi seluruh keluarga besar SMAN 1 Leuwimunding. Keep SM1LE everyone….!
Materi Sinergi Hangat dari Garda Terdepan Mental Health Sekolah memberikan pemahaman yang sangat bermanfaat tentang pentingnya peran seluruh warga sekolah dalam menjaga kesehatan mental peserta didik. Penyampaian materi yang hangat dan relevan membuat saya semakin sadar bahwa lingkungan sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga tempat tumbuhnya rasa aman, nyaman, dan saling peduli antar individu.
Saya juga merasa materi ini membuka wawasan mengenai pentingnya komunikasi yang baik antara guru, siswa, dan orang tua dalam menciptakan suasana sekolah yang sehat secara emosional. Guru sebagai garda terdepan memiliki peran besar dalam mengenali kondisi siswa sejak dini, sehingga dukungan yang diberikan dapat membantu mencegah berbagai masalah mental dan sosial di lingkungan sekolah.
Selain itu, materi ini mengajarkan bahwa menjaga kesehatan mental bukan hanya tugas satu pihak, melainkan hasil kerja sama dan sinergi bersama. Dengan adanya kepedulian, empati, dan dukungan dari seluruh komunitas sekolah, diharapkan tercipta generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental dan emosional
Sangat bagus dan baik
Alhamdulillah, semangat dan salam sehat selalu buat semuanya